10 Contoh Perbuatan Riya: Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

10 Contoh Perbuatan Riya: Ciri-Ciri dan Cara Menghindarinya

Dalam ajaran Islam, riya adalah perbuatan yang sangat tercela. Riya adalah melakukan suatu amalan ibadah bukan karena Allah SWT, melainkan karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain. Perbuatan ini dapat menghapus pahala dari amalan yang dilakukan, bahkan bisa mendatangkan dosa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami berbagai contoh perbuatan riya agar dapat menghindarinya.

Artikel ini akan membahas 10 contoh perbuatan riya yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik yang disadari maupun tidak. Dengan memahami contoh-contoh ini, diharapkan kita semua bisa lebih berhati-hati dalam beramal dan selalu meluruskan niat hanya karena Allah SWT semata.

1. Beribadah Hanya Saat Dilihat Orang

Contoh paling jelas dari riya adalah ketika seseorang rajin beribadah hanya saat ada orang lain yang melihatnya. Misalnya, ia sangat semangat shalat berjamaah di masjid ketika ada teman atau atasan di dekatnya, namun enggan melakukannya ketika sendirian di rumah. Ini menunjukkan bahwa motivasi utamanya adalah pujian dari orang lain, bukan karena ketaatan kepada Allah.

Perlu diingat, Allah SWT Maha Mengetahui segala isi hati dan perbuatan kita. Ibadah yang dilakukan dengan niat yang salah tidak akan diterima. Sebaiknya, kita selalu meluruskan niat sebelum melakukan ibadah apapun, memastikan bahwa itu hanya untuk mencari ridha Allah semata.

2. Bersedekah Agar Dipuji Dermawan

Memberi sedekah adalah amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, jika sedekah itu dilakukan dengan tujuan agar dipuji sebagai orang dermawan, maka niatnya sudah tidak lagi murni. Misalnya, seseorang sengaja bersedekah dengan jumlah besar di depan banyak orang agar namanya disebut-sebut sebagai donatur yang hebat.

Sedekah yang ikhlas adalah sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, hanya Allah dan kita yang tahu. Bahkan, Rasulullah SAW menganjurkan agar tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan. Ini menunjukkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam bersedekah.

3. Menunjukkan Ilmu Pengetahuan Agar Dianggap Pintar

Memiliki ilmu pengetahuan adalah anugerah dari Allah SWT. Namun, jangan sampai ilmu tersebut digunakan untuk menyombongkan diri dan mencari pujian dari orang lain. Misalnya, seseorang selalu berusaha menunjukkan kepintarannya dalam setiap percakapan, bukan untuk berbagi pengetahuan, melainkan untuk dianggap lebih cerdas dari orang lain.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan dan dibagikan kepada orang lain dengan niat karena Allah SWT. Ilmu tersebut akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia.

4. Berpakaian Sesuai Mode Agar Dibilang Kekinian

Berpakaian yang rapi dan sopan tentu diperbolehkan. Namun, jika berpakaian hanya untuk mengikuti tren mode dan agar dianggap kekinian oleh orang lain, ini bisa menjadi indikasi riya. Misalnya, seseorang rela menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian bermerek hanya agar terlihat modis dan dipuji oleh teman-temannya.

Penting untuk diingat bahwa penilaian Allah SWT tidak didasarkan pada penampilan fisik, melainkan pada ketakwaan dan amal shalih yang kita lakukan. Berpakaianlah sesuai dengan syariat Islam dan yang terpenting adalah menjaga hati agar tidak terjerumus dalam kesombongan dan riya.

5. Mengunggah Ibadah di Media Sosial Agar Mendapat Pujian

Di era digital ini, media sosial menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, kita perlu berhati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak terjerumus dalam perbuatan riya. Misalnya, seseorang sering mengunggah foto atau video saat sedang beribadah, seperti shalat, mengaji, atau bersedekah, dengan tujuan agar mendapat pujian dan komentar positif dari orang lain.

Sebaiknya, ibadah yang kita lakukan tidak perlu dipamerkan di media sosial. Biarlah itu menjadi urusan pribadi kita dengan Allah SWT. Kecuali jika unggahan tersebut memang bertujuan untuk menginspirasi orang lain melakukan kebaikan, dengan niat yang tulus karena Allah SWT.

6. Membantu Orang Lain dengan Tujuan Terselubung

Membantu orang lain adalah perbuatan yang sangat mulia. Namun, jika kita membantu dengan tujuan terselubung, seperti ingin mendapatkan imbalan atau pujian, maka niat kita sudah tidak lagi ikhlas. Misalnya, seseorang menawarkan bantuan kepada tetangga yang sedang kesulitan, namun di belakangnya ia membicarakan keburukan tetangganya tersebut.

Bantulah orang lain dengan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan apapun. Yakinlah bahwa Allah SWT akan membalas kebaikan kita dengan pahala yang berlipat ganda di dunia dan akhirat.

7. Beramal Jariyah dengan Nama Sendiri Agar Diingat Orang

Beramal jariyah adalah amalan yang pahalanya terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Namun, jika kita beramal jariyah dengan mencantumkan nama kita di setiap proyek atau bangunan yang kita sumbangkan, dengan tujuan agar nama kita selalu diingat orang, ini bisa menjadi indikasi riya.

Sebaiknya, beramal jariyahlah dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Tidak perlu mencantumkan nama kita, karena Allah SWT Maha Mengetahui segala amal perbuatan kita.

8. Menghafal Al-Quran Agar Disebut Ustadz/Ustadzah

Menghafal Al-Quran adalah amalan yang sangat mulia dan dianjurkan. Namun, jika kita menghafal Al-Quran hanya agar disebut sebagai ustadz atau ustadzah, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain, maka niat kita sudah tidak lagi murni.

Hafalkanlah Al-Quran dengan niat karena Allah SWT, agar kita dapat lebih dekat dengan-Nya, memahami isi kandungannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

a. Mengkritik Orang Lain dengan Tujuan Menunjukkan Diri Lebih Baik

Mengkritik orang lain memang diperbolehkan, namun harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana, serta dengan tujuan untuk memperbaiki. Jika kita mengkritik orang lain hanya untuk menunjukkan bahwa diri kita lebih baik atau lebih pintar, maka ini adalah bentuk riya yang terselubung.

Sebaiknya, fokuslah pada memperbaiki diri sendiri daripada sibuk mencari kesalahan orang lain. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

b. Berlebihan dalam Berpakaian Agamis Hanya Saat Ada Acara Keagamaan

Berpakaian yang sopan dan sesuai dengan syariat Islam tentu dianjurkan, terutama saat menghadiri acara keagamaan. Namun, jika kita berlebihan dalam berpakaian agamis hanya saat ada acara keagamaan tertentu, dengan tujuan agar dipuji sebagai orang yang alim, ini bisa menjadi indikasi riya.

Berpakaianlah secara sederhana dan sewajarnya, namun tetap sopan dan sesuai dengan syariat Islam. Yang terpenting adalah menjaga hati dan niat kita agar selalu lurus karena Allah SWT.

Kesimpulan

Riya adalah penyakit hati yang sangat berbahaya dan dapat merusak amalan ibadah kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu introspeksi diri dan berusaha menghindari segala bentuk perbuatan riya. Dengan memahami contoh-contoh perbuatan riya yang telah disebutkan di atas, diharapkan kita bisa lebih berhati-hati dalam beramal dan selalu meluruskan niat hanya karena Allah SWT semata.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua agar terhindar dari perbuatan riya dan selalu diberikan keikhlasan dalam setiap amalan yang kita lakukan. Aamiin.