Paugeran Tembang Gambuh: Gatra, Guru Wilangan, & Guru Lagu (Lengkap!)

Paugeran Tembang Gambuh: Gatra, Guru Wilangan, & Guru Lagu (Lengkap!)

Tembang Gambuh adalah salah satu dari sebelas jenis tembang macapat yang memiliki ciri khas tersendiri. Sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang adiluhung, tembang ini tidak hanya sekadar rangkaian kata-kata indah, tetapi juga menyimpan nilai-nilai filosofis yang mendalam. Untuk memahami dan melantunkannya dengan benar, penting untuk mengerti paugeran atau aturan-aturan yang melekat padanya.

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang paugeran tembang Gambuh, mulai dari jumlah gatra dalam setiap bait, guru wilangan dan guru lagu dari setiap baris, hingga watak atau karakteristik yang terkandung di dalamnya. Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan kita dapat lebih mengapresiasi keindahan dan kearifan yang terkandung dalam tembang Gambuh.

Apa Itu Tembang Gambuh?

Tembang Gambuh berasal dari kata “gambuh” yang berarti cocok, akrab, atau bersahaja. Nama ini mencerminkan watak tembang yang biasanya digunakan untuk menyampaikan nasihat, cerita persahabatan, atau penggambaran kehidupan sehari-hari. Tembang Gambuh memiliki kesan yang lugas dan terbuka, sehingga mudah dipahami dan dinikmati oleh pendengar.

Dalam pertunjukan wayang kulit, tembang Gambuh sering digunakan untuk mengiringi adegan-adegan yang menggambarkan hubungan antar tokoh, pemberian nasihat dari orang tua kepada anaknya, atau momen-momen penting lainnya yang membutuhkan penekanan pada kesederhanaan dan keakraban.

Jumlah Gatra dalam Tembang Gambuh

Salah satu paugeran yang mendasar dalam tembang Gambuh adalah jumlah gatra atau baris dalam setiap bait. Tembang Gambuh memiliki lima gatra atau baris dalam setiap baitnya. Jumlah gatra ini konsisten dan tidak berubah, sehingga menjadi ciri khas yang membedakannya dari tembang macapat lainnya.

Setiap gatra dalam tembang Gambuh memiliki makna dan peran tersendiri dalam menyampaikan pesan secara keseluruhan. Kelima gatra tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan utuh yang mengandung cerita atau nasihat tertentu.

Guru Wilangan Tembang Gambuh

Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap gatra. Paugeran guru wilangan tembang Gambuh adalah: 7, 10, 12, 8, 8. Artinya, gatra pertama memiliki 7 suku kata, gatra kedua memiliki 10 suku kata, gatra ketiga memiliki 12 suku kata, gatra keempat memiliki 8 suku kata, dan gatra kelima juga memiliki 8 suku kata.

Perhatikan bahwa guru wilangan ini harus ditaati agar lagu dan irama tembang Gambuh dapat terdengar indah dan harmonis. Melanggar guru wilangan dapat menyebabkan tembang menjadi kurang enak didengar dan kehilangan maknanya.

Guru Lagu Tembang Gambuh

Guru lagu adalah vokal terakhir pada setiap gatra. Paugeran guru lagu tembang Gambuh adalah: u, u, i, u, o. Artinya, gatra pertama diakhiri dengan vokal ‘u’, gatra kedua diakhiri dengan vokal ‘u’, gatra ketiga diakhiri dengan vokal ‘i’, gatra keempat diakhiri dengan vokal ‘u’, dan gatra kelima diakhiri dengan vokal ‘o’.

Guru lagu ini berperan penting dalam menciptakan rima dan melodi yang khas pada tembang Gambuh. Kombinasi guru wilangan dan guru lagu yang tepat akan menghasilkan tembang yang enak didengar dan mudah diingat.

Watak Tembang Gambuh

Watak tembang Gambuh adalah lugas, terbuka, bersahaja, dan menasihati. Tembang ini sering digunakan untuk menyampaikan nasihat-nasihat bijak, cerita-cerita moral, atau penggambaran kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Watak tembang Gambuh yang terbuka membuatnya cocok untuk menyampaikan pesan-pesan yang bersifat universal dan relevan dengan berbagai kalangan masyarakat. Tembang ini juga sering digunakan untuk membangun hubungan yang akrab antara penembang dan pendengar.

Contoh Tembang Gambuh

Berikut adalah contoh bait tembang Gambuh yang menggambarkan nasihat tentang pentingnya menjaga perilaku:

Sekar gambuh ping catur (7u) Kang cinatur polah kang kalantur (10u) Tanpa tutur katula-tula katali (12i) Kadaluwarsa kapatuh (8u) Kapatuh pan dadi awon (8o)

Analisis Guru Wilangan dan Guru Lagu

Mari kita analisis guru wilangan dan guru lagu pada contoh tembang Gambuh di atas. Gatra pertama memiliki 7 suku kata dan diakhiri dengan vokal ‘u’. Gatra kedua memiliki 10 suku kata dan diakhiri dengan vokal ‘u’. Gatra ketiga memiliki 12 suku kata dan diakhiri dengan vokal ‘i’. Gatra keempat memiliki 8 suku kata dan diakhiri dengan vokal ‘u’. Gatra kelima memiliki 8 suku kata dan diakhiri dengan vokal ‘o’.

Dari analisis ini, dapat kita lihat bahwa contoh tembang Gambuh di atas telah memenuhi paugeran guru wilangan dan guru lagu yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa tembang tersebut ditulis dengan benar dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

Makna dari Contoh Tembang Gambuh

Contoh tembang Gambuh di atas mengandung nasihat tentang pentingnya menjaga perilaku agar tidak berlebihan. Jika perilaku tidak terkontrol, maka akan membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Kata “katula-tula katali” menggambarkan seseorang yang terjerat dalam masalah akibat perilaku buruknya. “Kadaluwarsa kapatuh” mengingatkan bahwa kebiasaan buruk yang terus dilakukan akan membawa dampak buruk pada akhirnya.

Makna dari contoh tembang Gambuh ini sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita harus selalu berhati-hati dalam bertindak dan menjaga perilaku agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Nasihat-nasihat seperti ini lah yang membuat tembang Gambuh menjadi berharga dan relevan hingga saat ini.

Kesimpulan

Paugeran tembang Gambuh, yang meliputi jumlah gatra, guru wilangan, dan guru lagu, merupakan fondasi penting dalam memahami dan melantunkan tembang ini dengan benar. Memahami watak tembang Gambuh juga membantu kita dalam mengapresiasi makna dan pesan yang ingin disampaikan.

Dengan memahami paugeran dan watak tembang Gambuh, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya Jawa, tetapi juga dapat menggali nilai-nilai kearifan yang terkandung di dalamnya. Mari terus lestarikan dan kembangkan tembang Gambuh sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.